5 Alasan Manchester City Bakal Kalahkan Chelsea dan Juara Liga Champions Musim Ini

robin -

Pep Guardiola

IDNGoal.news – Final Liga Champions akan menjadi penutup rangkaian musim 2020/21. Pertandingan yang digelar pada Minggu (30/5/2021) di Estadio Do Dragao, Portugal tersebut mempertemukan dua klub raksasa Inggris, Manchester City dan Chelsea.

Manchester City bisa mencapai babak final setelah berhasil menyingkirkan finalis edisi sebelumnya, PSG, dengan agregat 4-1. Sementara Chelsea melaju ke final dengan mengalahkan Real Madrid 3-1.

Pengalaman kedua tim di babak final terbilang minim. Chelsea tidak pernah merasakan atmosfir partai puncak Liga Champions lagi sejak tahun 2013. Manchester City bahkan lebih parah, di mana ini adalah final pertamanya sejak nama Liga Champions digunakan.

Kalau dari segi pengalaman saja, Manchester City di atas kertas sangat mungkin dikalahkan Chelsea. Namun dalam cakupan yang lebih luas, ada lima alasan mengapa klub besutan Josep Guardiola tersebut bisa keluar sebagai pemenang.

Skuad Lebih Matang

Manchester City sudah jauh berbeda ketika dipegang Josep Guardiola. Mereka tak lagi berpikir instan dengan merekrut pemain berkualitas yang berharga mahal, melainkan fokus pada apa yang tim butuhkan.

Coba perhatikan. Pemain termahal Manchester City setiap musim tidak memiliki harga lebih dari 65 juta euro. Padahal inflasi harga di bursa transfer meningkat setiap tahunnya. Semuanya pun berlandaskan kebutuhan, contohnya dalam perekrutan Rodri dan Riyad Mahrez.

Karena kekuatan finansialnya cukup baik, the Citizens jadi tidak memiliki urgensi untuk menjual pemain pentingnya. Jika dilihat dari komposisi starting XI tiap musim, Manchester City adalah tim yang paling jarang mengalami perubahan.

Tengok saja starting XI terakhir yang dimainkan, yakni ketika menghadapi Everton di pentas Premier League akhir pekan lalu. Hanya Ruben Dias yang masih menyandang status pemain baru, sementara lainnya telah bekerja sama selama beberapa tahun terakhir.

Pengalaman Guardiola di Final

Manchester City memang tidak memiliki pengalaman untuk dijadikan modal menjalani laga final Liga Champions. Tapi Guardiola selaku pelatihnya punya.

Seperti halnya Zinedine Zidane, Guardiola adalah pelatih modern yang cukup akrab dengan final Liga Champions dan pialanya. Ia tercatat pernah mencapai babak final sebanyak dua kali sewaktu melatih Barcelona dan memenangkan keduanya.

Di Bayern Munchen, pencapaian terbaik Guardiola adalah mencapai babak semifinal. Begitu juga di Manchester City di musim-musim sebelumnya. Sudah pasti, Guardiola kangen dengan trofi yang lama tidak dipegangnya itu.

Mentalitas Pemenang Sudah Terbukti

Menurut data, Manchester City menelan kekalahan sebanyak enam kali di pentas Premier League. Namun bukan berarti the Citizens mudah untuk dikalahkan. Klaim ini bisa dibuktikan dari beberapa pertandingan terakhir Sergio Aguero dkk.

Manchester City pernah kebobolan sebanyak tiga kali ketika menghadapi Newcastle United, namun mampu keluar sebagai pemenang dengan skor 4-3. Mereka juga pernah kebobolan dua gol kala melawan Southampton dan menang dengan skor 5-2.

Mereka punya barisan penyerang yang bisa diandalkan dalam urusan mencetak gol. Sehingga ketika para pemain bertahannya mengalami hari buruk, para penyerang bisa mengubah situasi menjadi lebih baik.

Belajar dari 2 Kekalahan

Modal Manchester City terbilang buruk. Dua pertemuan terbaru menghadapi klub berjuluk the Blues tersebut selalu berakhir dengan kekalahan. Itu semua terjadi usai Chelsea mengangkat Thomas Tuchel sebagai nahkoda baru.

Lini depan mereka dibuat tak berdaya. Bayangkan saja, the Citizens hanya mampu menghasilkan satu gol di kedua laga tersebut. Padahal, saat Chelsea masih diasuh Frank Lampard, mereka mampu menang dengan skor 3-1.

Bisa jadi ada faktor pendukung lain yang membuat Manchester City kalah di dua pertandingan terakhir, salah satunya fakta bahwa Tuchel masih baru di Inggris. Bisa jadi Guardiola belum memiliki gambaran soal gaya bermain Tuchel secara penuh.

Dua pertandingan dalam rentang waktu yang berdekatan bisa mempersingkat proses pengenalan Guardiola dengan Tuchel. Kalau dilihat dari perspektif ini, dua kekalahan yang dialami ternyata tidak buruk-buruk amat.

Fisik Pemain Lebih Bugar

Perjalanan Manchester City di musim 2020/21 berakhir dengan mulus. Trofi Premier League dan Carabao Cup serta finalis Liga Champions sudah cukup untuk membuat musim Manchester City terasa sangat baik.

Akan tetapi, bukan berarti Manchester City tidak melewati jalan terjal untuk mencapai babak finis dengan apik. Di awal musim, mereka sempat melewati jalan penuh lubang hingga meraih hasil-hasil buruk, terutama di Premier League.

Karena hasil buruk itulah, manchester City sempat duduk di peringkat ke-14 dalam klasemen Premier League. Guardiola seringkali menuding kalau jadwal pertandingan yang sangat padat menjadi penyebab memburuknya raihan the Citizens. Namun sekalinya terbiasa, mereka menggila.

Untuk final Liga Champions ini, skuad Manchester City memiliki waktu jeda selama satu pekan – sangat jarang bisa didapatkan oleh para pemain di musim ini. Dengan energi yang terkuras saja, City bisa keluar sebagai juara Premier League. Apalagi kalau punya waktu istirahat yang cukup?

Share

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?