Bukan Kekalahan, Jordan Henderson Takut Bicara Kasar Saat Premier League Kembali

robin -

Jordan Henderson

IDNGoal.news – Ada satu hal yang ditakutkan gelandang Liverpool, Jordan Henderson, saat kembali bermain dalam ajang Premier League. Bukan kekalahan, melainkan takut mengatakan hal yang tidak pantas diutarakan.

Premier League akan kembali bergulir mulai tengah pekan ini setelah tertunda sejak bulan Maret lalu akibat pandemi virus Corona. Namun, Liverpool baru akan bertanding pada Senin (22/6/2020) mendatang.

Klub besutan Jurgen Klopp itu akan bertandang ke markas rival sekotanya, Everton. Mereka wajib meraih tiga poin agar bisa mengunci gelar juara Premier League secepat mungkin.

Sekarang, mereka sedang unggul 25 poin atas Manchester City yang duduk di peringkat dua. Jika Manchester City kalah dari Arsenal tengah pekan ini, sementara Liverpool menang, maka the Reds resmi jadi juara Premier League musim ini.

Harus Menjaga Kata-kata

Jelas, kalau Liverpool sampai kalah, maka mereka harus menunda selebrasi gelarnya. Namun bukan itu yang sedang ditakutkan Henderson saat kembali bermain nanti. Atau bahkan stadion yang sepi karena absennya penonton.

Ia lebih takut dirinya tidak bisa menahan kata-kata yang tidak pantas terlontar dari mulutnya. Henderson percaya bahwa ketakutan yang sama juga dialami oleh sang pelatih, Jurgen Klopp.

“Saya lebih khawatir soal bahasa saya saat bermain! Saya tak ingin harus meminta maaf kepada semua orang tiap selesai bermain, jadi saya harus berhati-hati. Terutama saat laga berlangsung panas,” ujarnya kepada Liverpool FC Magazine.

“Saya yakin pelatih juga bakalan berhati-hari dengan kata-katanya! Namun dia juga akan tahu bahwa kami tidak bisa menyalahkan penonton karena tidak mendengar apa yang dia katakan dalam pertandingan,” lanjutnya.

Tanpa Penonton? Bukan Masalah

Salah satu syarat agar Premier League bisa bergulir kembali adalah penonton. Kedua tim dilarang memperbolehkan fans hadir di stadion demi menekan penyebaran virus Corona di Inggris.

Dampak dari absennya penonton cukup terasa di liga lain, seperti La Liga dan Bundesliga. Namun Henderson merasa kalau pemain takkan terpengaruh hal semacam itu.

“Saat anda masih kecil dan sering bermain untuk sekolahan anda, di sana tidak ada penonton yang menyaksikan, jadi anda bisa menikmati permainan,” tambahnya.

“Kami harus menghadapi itu dan memanfaatkan situasinya sebaik mungkin. Intensitas pertandingan masih bisa berada di level tertinggi,” tutup Henderson.

Share

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?