Surat Menyentuh dari Buffon untuk Dirinya yang Masih Muda

robin - Liga Italia

Gianluigi Buffon

IDNGoal.news – Gianluigi Buffon kini semakin uzur, dan kian dekat dengan masa-masa dirinya gantung sepatu. Pada suatu masa, kiper Juventus itu mencoba untuk memberi pesan kepada dirinya yang masih berumur 17 tahun.

Pada bulan Januari nanti, Buffon akan berusia 42 tahun. Ia memulai kiprahnya dalam dunia sepak bola profesional sejak tahun 1995 hingga sekarang, di mana rekan-rekannya tengah merintis karir sebagai pelatih, pandit, ataupun sekadar hidup bersama keluarga terdekatnya.

Buffon sudah mendapatkan hampir semua gelar yang bisa diraih oleh satu orang pemain, kecuali Liga Champions. Meskipun demikian, trofi Piala Dunia yang diraih bersama Timnas Italia tahun 2006 seharusnya sudah cukup untuk mengobati kekurangan itu.

Tapi dirinya tidak merasa demikian. Pada tahun 2019, setelah melalui satu musim bersama PSG, Buffon memutuskan kembali ke pelukan Juventus demi meraih trofi Liga Champions yang diidam-idamkan.

Surat untuk Buffon Muda

24 tahun lalu, Buffon memulai karirnya di tim senior bersama Parma. Mentalnya terus terasah oleh asam garam dan kerasnya dunia sepak bola profesional hingga membentuk dirinya yang sekarang: pemenang serial Serie A dan seorang juara dunia.

Namun umur tak bisa dilawan. Usianya kian senja. Sekarang Buffon dihadapkan dengan masa-masa terakhirnya di dunia sepak bola dan menambatkan status legendaris sebagaimana mestinya.

Buffon coba menarik dirinya kembali ke masa lalu. Tepatnya saat masih berusia sangat belia, yakni 17 tahun. Ia mencoba mengirimkan sebuah pesan kepada dirinya sendiri yang masih naif, selayaknya anak muda pada umumnya.

“Untuk Gianluigi yang berumur 17 tahun,” buka Buffon di The Players’ Tribune.

“Saya menuliskan surat ini kepada anda sebaga seseorang berusia 41 tahun yang telah merasakan banyak, banyak pengalaman di dalam hidup, dan sudah melakukan beberapa kesalahan. Saya memiliki kabar baik dan buruk untuk anda. Sejujurnya saya berada di sini untuk memberi tahu anda soal jiwa anda,”.

“Dalam beberapa hari, anda akan mendapatkan kesempatan untuk memulai laga pertama Serie A anda untuk Parma, dan anda tak cukup tahu untuk merasakan takut. Anda seharusnya berada di kasur sambil minum susu hangat. Tapi apa yang akan anda lakukan? Anda pergi ke klub malam dengan rekan baik dari primavera,”.

Kesalahan Seorang Manusia Biasa

Momen itu terekam jelas di benak Buffon. Pada saat itu, ia bergembira dengan cara yang berlebihan sampai melakukan tindakan di luar batas. Salah satunya adalah beradu dengan pihak kepolisian yang berada di sekitar klub malam itu.

“Pulanglah. Tidur. Dan tolong, saya memohon, jangan mengencingi roda mobil polisi. Polisi takkan menganggapnya lucu, klub takkan menganggapnya lucu, dan anda akan mempertaruhkan semua yang telah anda kerjakan,” lanjutnya.

Di dalam surat yang panjang itu, Buffon juga menyebutkan bagaimana dirinya dihancurkan oleh uang dan popularitas. Orang memanggilnya dengan sebutan Superman, namun pada dasarnya Buffon hanyalah manusia biasa.

“Suatu pagi, saat anda beranjak dari kasur untuk pergi berlatih, kaki anda mulai bergetar tak terkontrol. Anda akan menjadi sangat lemah hingga tak mampu mengendarai mobil. Awalnya, anda berpikir bahwa anda kelelahan, atau terkena virus. Namun itu semakin memburuk. Yang ingin anda lakukan hanyalah tidur. Dalam latihan, setiap penyelamatan akan terasa seperti usaha yang begitu besar. Selama tujuh bulan, anda akan merasa sulit untuk mendapatkan kenikmatan hidup,”.

“Pada momen ini, kami harus berhenti. Karena saya tahu apa yang sedang anda pikirkan saat membaca ini, di umur 17 tahun. Anda berkata, ‘bagaimana ini mungkin terjadi? Saya adalah orang yang senang. Lahir sebagai pemimpin. Bila saya menjadi kiper Juventus, meraih jutaan, maka seharusnya saya merasa senang. Tak mungkin merasa depresi,”.

Memori Thomas N’Kono

Kemudian, Buffon mengingatkan dirinya akan sosok Thomas N’Kono, kiper Timnas Kamerun di era 1980-an. Ia menjelaskan bagaimana pria yang kini berumur 63 tahun itu menginspirasinya untuk menjadi kiper seperti sekarang ini.

“Dia adalah orang terkeren yang mungkin anda pernah lihat. Sang komentator berkata bahwa namanya adalah Thomas N’Kono. Lalu terjadi sihir. Sepak pojok untuk Argentina, dan Thomas berlari ke kerumunan dan memukul bola sejauh 30 yards di udara. Ini adalah momen yang ingin anda lakukan di dalam hidup,”.

“Anda tak ingin menjadi penjaga gawang yang sederhana. Anda ingin menjadi penjaga gawang yang seperti ini. ingin menjadi liar, berani, bebas. Menit ke menit, melihat pertandingan ini, anda menjadi diri sendiri. Hidup anda telah tertuliskan,”.

Terbentur, Terbentur, Terbentuk

Buffon kembali mengingatkan kesalahan-kesalahan lainnya saat masih berseragam Parma. Suatu waktu, ia pernah menuliskan ‘Mati bagi para pecundang’. Niatnya adalah memberikan motivasi ke rekan setimnya dan menjadi sosok pemimpin di ruang ganti. Tapi ternyata, tindakannya itu salah.

“Kesalahan ini akan menyakitkan bagi keluarga anda. Namun kesalahan ini penting, sebab mereka mengingatkan bahwa anda adalah seorang manusia. Mereka akan mengingatkan anda, lagi dan lagi, bahwa anda tak tahu apa-apa, temanku,”.

“Ini bagus, karena sepak bola akan melakukan tugas yang bagus untuk meyakinkan bahwa anda adalah orang yang spesial. Tapi anda harus ingat bahwa anda tidak ada bedanya dengan bartender atau tukang listrik, yang akan menjadi teman hidup,”.

Buffon yang Tak Pernah Puas

Isi surat Buffon berlanjut hingga dirinya berumur 41 tahun. Seseorang yang masih belum puas meski telah mengangkat trofi bergengsi, yakni Piala Dunia.

“Di umur 41 tahun, anda akan tetap merasa terbakar di dalam diri. Saya mohon maaf, anda takkan merasa puas. Bahkan mengangkat trofi Piala Dunia pun takkan mampu menghilangkan perasaan ini. Anda takkan merasa puas hingga anda mendapatkan sebuah musim di mana anda tidak membiarkan satu gol,”.

“Anda adalah Buffon. Anda akan menunjukkan kepada dunia bahwa anda itu nyata,” tandasnya.

Share

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?